Kalimat Penyelamat Krisis Pernikahan, Inspirasi Dari Pernikahan Seorang Penulis


Inspirasi dari Kak Rimalia – part 4
(Edisi Pernikahan)

Kita telah memasuki puasa hari ke-10 ya Temans. Tentunya ada banyak cerita dalam pelaksanaan puasa tahun ini ya. Nah sambil mengisi waktu-waktu berharga dengan beribadah kepada Allah, mari kita kulik sejenak artikel dari Kak Rimalia berikut ini. Temanya tentang kalimat sakti penyelamat krisis pernikahan.

Seiring pandemi corona ini, ada satu fakta yang saya temukan, yakni meningkatnya angka perceraian pada banyak pasangan di negeri tirai bambu yang harus menghabiskan waktu bersama dalam jangka waktu panjang selama stay at home. Nah disinyalir pasangan-pasangan ini sering terlibat pertengkaran hingga terburu-buru memutuskan untuk menikah. Sehingga ketika kantor pernikahan sipil disana dibuka, mereka langsung mendaftarkan permohonan perceraian mereka.   



Temans, terlepas dari fakta dan data tentang perceraian, di Indonesia sendiri angka perceraiannya disinyalir cukup tinggi. Pada tahun 2019 saja, Badan Pengadilan Agama telah mencatat bahwa terdapat 604.997 kasus permohonan perceraian yang diterima dari seluruh Indonesia dimana dari angka tersebut, sebanyak 479.618 pasangan telah dikabulkan gugatannya yang artinya hampir setengah juta pasangan bercerai di tahun 2019. Dan tahukah kamu, dari kasus-kasus tersebut, jumlah kasus perceraian yang diajukan pihak istri (cerai gugat) sebanyak 355.842 kasus dan yang dari pihak suami (cerai talak) sebanyak 124.776 kasus. Berarti pihak istri sebagai pihak yang ingin bercerai lebih besar daripada jumlah suami yang menjatuhkan talak cerai.

Sedih ya membaca angka-angka tersebut. Tentunya tak mudah untuk memutuskan berpisah, apalagi jika ada anak yang telah hadir di dalam pernikahan tersebut. Hal ini bisa membuat trauma bagi anak apalagi jika orang tua yang berpisah tak mampu menyikapi perpisahan dengan bijak.



Temans, setiap pernikahan pasti pernah mengalami krisis. Walaupun penyebabnya berbeda, tetapi ada satu kesamaan orang-orang yang berhasil melewati badai pernikahan tersebut, yaitu kemampuan dan kesabaran yang luas dalam mengatasi krisis tersebut.

Mari kita simak kisah inspiratif tentang seorang penulis asal Amerika bernama Richard Paul Evans tentang usahanya menyelamatkan pernikahannya dari perceraian dengan bermodalkan satu kalimat yang istiqomah selalu diucapkan saat krisis itu sedang melanda.

Richard dan Keri adalah sepasang suami istri yang mulanya sangat bahagia. Tetapi semakin lama pernikahan, Richard dan Keri semakin merasakan ketidakcocokan. Hal ini terjadi justru saat Richard menjadi terkenal dan kaya karena buku-bukunya. Pernikahan mereka semakin hari semakin sulit



Ketegangan antara Richard dan Keri semakin meningkat, hingga turnya untuk mempromosikan buku dan jauh dari keluarga justru memberikan kesenangan bagi Richard. Karena saat Richard kembali ke rumah, pertengkaran seakan menjadi menu harian, hingga mereka tak tahu lagi bagaimana suatu pernikahan yang tenang dan damai. Keduanya menjadi pribadi yang defensif, membangun benteng emosional dihati masing-masing. Perceraian sudah di depan mata.

Puncak krisis pernikahanya terjadi pada salah satu tur bukunya. Setelah bertengkar di telpon, Richard merasa sendiri, kesepian, frustrasi, dan marah. Di bawah shower kamar hotel ia berteriak kepada Tuhan bahwa pernikahannya salah dan tak sanggup lagi melanjutkannya. Richard bingung dan tak bisa menemukan jawaban mengapa pernikahannya dengan Keri begitu sulit, mengapa ia menikahi seseorang yang begitu berbeda dengannya dan mengapa Keri tak pernah bisa berubah.


Akhirnya, lelah dengan kemarahannya, Richard duduk dan menangis. Di tengah keputusasaannya, inspirasi datang seakan membisikkan sesuatu, “kamu tak bisa mengubah Keri, kamu hanya bisa mengubah dirimu sendiri.

Maka di hari pertama Richard kembali, ia duduk di samping Keri dan bertanya, "Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat harimu lebih baik?"
Penuh amarah, Kery menjawab. "Apa maksudmu?"
Richard mengulangi pertanyaannya dan Keri menjawab, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena saya bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya," kata Richard. "Aku hanya ingin tau apa yang bisa membuat harimu lebih baik."
Setelah menatap Richard dengan sinis, Keri menjawab, "kamu ingin melakukan sesuatu? bersihkan dapur."
Keri sudah siap dengan reaksi kemarahan Richard, namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Hari berikutnya, Richard bertanya hal yang sama dan Keri memintanya untuk membersihkan garasi. Richard menarik napas dalam. Ia tahu Keri sengaja membuatnya menderita dengan menyuruhnya membersihkan garasi. Meskipun Richard tergoda untuk marah, ia tetap bersabar dan melakukan permintaan sang istri. Begitulah seterusnya, Richard selalu konsisten dengan hanya mengajukan 1 kalimat tersebut.

Keajaiban mulai terjadi pada pertengahan minggu kedua. Saat Richard menanyakan pertanyaan rutinnya, Keri menangis. "Tolong berhenti bertanya. Masalahnya bukan kamu, tapi aku. Aku adalah orang yang sulit untuk diajak hidup bersama. Aku tak mengerti kenapa kamu tetap bertahan."

Richard mengatakan bahwa ia sudah berjanji untuk berubah menjadi suami yang lebih baik bagi Keri. Keri akhirnya meminta agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Selama sebulan lebih, Richard tak berhenti menanyakan pertanyaan yang sama. Perubahan mulai terjadi, pertengkaran berhenti dan Keri mulai bertanya kepada Richard, "Apa yang kamu inginkan dariku? Bagaimana caranya aku bisa menjadi istri yang lebih baik?"

Dinding antara Richard dan Keri mulai runtuh. Mereka berdiskusi dalam tentang apa yang mereka inginkan dari hidup dan bagaimana mereka bisa membahagiakan satu sama lain.



Temans, jangan pernah memaksakan diri untuk mengendalikan hal-hal yang berada diluar kendali kita, walau dengan pasangan kita sekalipun. Karena saat kita fokus mengendalikan dan ingin merubah pasangan, walaupun hal tersebut adalah suatu kebaikan baginya, maka lebih banyak kita akan menuai kesedihan dan kekecewaan.

Maka apa yang dapat dilakukan, jika kita menginginkan adanya perubahan kebaikan dari pasangan kita ? mulailah dengan mengendalikan diri kita, merubah diri kita menjadi lebih baik, layaknya kalimat sakti Richard kepada sang istri yang akhirnya mempertahankan pernikahannya.
 "Apa yang bisa kulakukan untuk membuat harimu lebih baik?"

Sumber :
netz.id
freepik.com
kompas.com