Jangan Menikah karena Cinta


#Inspirasi  dari Kak Rimalia (part 2)

Hai..hai...ini dia inspirasi kedua dari kakak saya, kak Rimalia. Kali ini akan membahas tentang landasan pernikahan ya. Yuk langsung aja disantap...


Tahukah Anda, mayoritas pasangan yang menikah akan mengatakan mereka menikah karena saling mencintai. Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat pada tahun 2010 menemukan bahwa 93% responden yang sudah menikah mengatakan cinta adalah fondasi utama dari pernikahan. Hasil yang hampir sama juga ditunjukkan oleh responden belum menikah yaitu 84%.  Hasil ini mendukung survei yang dilakukan pada tahun 1986 yang menemukan mayoritas pria dan wanita di Amerika Serikat tidak akan menikah jika tidak mencintai pasangannya,

Data-data ini menunjukkan bahwa manusia memandang cinta romantis sebagai alasan utama untuk menikah. Tetapi dalam kenyataannya angka perceraian tak pernah menurun. Sehingga timbul pertanyaan apakah menikah karena cinta adalah keputusan yang tepat?

Aaron Beck  yang dikenal sebagai Bapak Cognitive Behavioral Therapy mengatakan cinta saja tidak mampu menolong pasangan menghadapi tantangan dalam pernikahan. Jika seseorang menikah hanya karena cinta, maka ketika perasaan cinta itu terkikis maka pernikahan itu ikut bubar. Sehingga tidak mengherankan jika pernikahan yang hanya berdasarkan cinta banyak menemui kegagalan.

Tidak bisa kita pungkiri jika cinta yang romantis akan membuat hidup menjadi indah. Efek jatuh cinta membuat jantung berdebar-debar, pikiran yang tidak bisa berhenti memikirkan kekasih, sehingga selain kekasih hati menjadi tidak berarti. Dengarkanlah begitu banyak film dan lagu yang menggambarkan hal ini yang membuat orang terbius karena gambaran indahnya cinta romantis

Lalu muncul pertanyaan, jika cinta romantis ini dapat mengharubirukan perasaan manusia, lalu mengapa tidak dapat menjadi fondasi utama pernikahan?

Salah satu jawabannya adalah karena cinta romantis tidak dapat bertahan lama. Dalam cinta romantis ada tiga faktor yang mempengaruhi : fantasi, kebaruan, dan gairah.



Memang saat di awal hubungan, suami ataupun istri masih belum terlalu mengenal pasangannya dan masih terbutakan oleh cinta, sehingga fantasi mereka tentang pasangan dan hubungan mereka masih tinggi. Seiring dengan berjalannya waktu, pasangan sudah semakin mengenal satu sama lain, perlahan mereka semakin menyadari realitas yang sesungguhnya. Seiring berjalannya waktu, saat realitas semakin terlihat, maka fantasi akan semakin menurun.

Begitu pula dengan kebaruan. Unsur cinta romatis ini membuat cinta semakin hidup dan berenergi. Hal ini disebabkan karena Manusia selalu tertarik dengan hal-hal yang baru, demikian pula halnya dengan cinta. Diawal menjalin hubungan, banyak hal-hal baru yang mengejutkan dan dapat membuat cinta mereka semakin berkobar. Tetapi sayangnya dengan berjalannya waktu, pasangan sudah saling mengenal dan hal-hal baru jarang dijumpai. maka cintapun meredup.

Hal yang sama juga terjadi pada gairah. Gairah berhubungan dengan kadar dopamine yang dihasilkan otak. Diawal relasi, otak memproduksi dopamine dalam jumlah yang banyak. Namun produksi  dopamine ini menurun setelah pasangan semakin saling mengenal. Oleh karena itu gairah juga menurun seiring dengan berjalannya waktu. 

Ternyata tiga faktor yang mempengaruhi cinta romantis akan menurun dengan berjalannya waktu. Tidak mengherankan jika cinta romantis tidak bisa bertahan lama. Suami ataupun istri menyadari bahwa pasangannya adalah manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Kekecewaan demi kekecewaan mulai dirasakan. Jika hal ini dibiarkan, maka hubungan mereka akan berakhir seiring dengan pudarnya cinta romantis.


Lalu apakah fondasi pernikahan yang terkuat itu?



Bagi Anda yang akan memasuki gerbang pernikahan, fondasi yang harus dibangun adalah kesadaran ibadah, dan bagaimana menjadikan pernikahan sebagai sarana untuk melaksanakan sunah Nabi dan meraih ridho Ilahi.

Ketika gairah cinta menurun karena mendapati kelemahan pasangan, maka suami ataupun istri yang menjadikan motivasi ibadah sebagai fondasi pernikahannya, akan berusaha menjadikan kelemahan pasangan sebagai ladang amalnya dengan  memaafkan dan berusaha memperbaiki kelemahannya dengan penuh kesabaran.

Dalam keseharian pun, suami dan istri juga akan berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangannya. Mereka menyadari bahwa cinta terhadap pasangan yang menjadikan cinta menjadi kuat melainkan karena sama-sama bergandengan tangan untuk meraih cinta Ilahi.

Jika semula Anda membentuk keluarga bukan berlandaskan motivasi ibadah yang kuat, maka tidak ada kata terlambat. Mulailah kembali dari titik nol untuk membangun kesadaran ibadah dan berusahalah memelihara keistiqomahannya. Hingga cinta ini menyatu di dalam keabadian atas nama ibadah hanya kepada-Nya.



Sumber gambar :
freepik.com