Langsung ke konten utama

Berdamai dengan Kerapuhan Diri, agar selalu Optimis Menatap Masa Depan


#Inspirasi  dari Kak Rimalia (part 1)

Yuhu Temans, ada yang baru nih di blog saya. Apa itu? Yup, sekarang Insya Allah akan ada artikel-artikel motivasi dan inspirasi dari kakak pertama saya, kak Rimalia.



Temans, pernah nggak kamu mengungkapkan hal-hal negatif atau negative talk ke diri sendiri. seperti misalnya aku adalah seorang ibu yang buruk, aku adalah anak yang tak tahu diri, mana mungkin istriku memaafkanku, jika dia tahu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan padanya dan sebagainya.

Namun, menurut Brené Brown, seorang professor dan penulis buku yang berjudul The Power of Vulnerability, cinta, kebahagiaan, kreativitas, serta perasaan memiliki dan dimiliki, justru bersumber dari kerapuhan. Bisa dikatakan kerapuhan adalah awal dari munculnya keberanian diri.

Kita tentu mengenal Umar bin Khatab. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya ada nabi sesudahku maka ia adalah Umar bin Khatab.” (H.R Tirmidzi dan Ahmad)

Dikisahkan suatu hari Rasulullah SAW mendapati Umar sedang menangis kemudian tertawa hampir bersamaan. Ketika ditanya apa gerangan yang menyebabkannya demikian. Umar menjelaskan ia menangis, karena teringat ketika masa jahiliyah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Seandainya saja anak perempuannya masih hidup. Ia akan bahagia bersama mereka. Dan akan mendapatkan cucu yang banyak dari mereka.

Lantas yang membuatnya tertawa adalah ketika di masa jahiliyah ia terbiasa membuat patung-patung berhala. Terkadang ia membuatnya dari gandum dan manisan. Akan tetapi ketika ia dilanda lapar atau musim paceklik. Maka ia terpaksa mengambil bagian-bagian patung tersebut kemudian memakannya. Mendengar hal tersebut Rasulullah SAW pun turut tertawa.



Layaknya umar bin khattab, kejadian dimasa lalu baik pengalaman pahit bahkan memalukan memang sulit dihilangkan dari pikiran kita, semakin ingin dihilangkan malah semakin susah dilupakan, akibatnya kita tidak bisa menerima diri sendiri dan semakin sulit berdamai dengan masa lalu yang sudah lewat.

Kondisi ini ternyata dapat pula mempengaruhi performa dan kemampuan kita dalam  mencintai anak maupun pasangan.  Karena saat kita tak mampu berdamai dengan masa lalu maka kita pun menjadi sulit untuk mencintai diri sendiri. Jika kita tak mampu mencintai diri sendiri, bagaimana kita mampu mencintai anak ataupun pasangan dengan baik?

Untuk melindungi diri dari kekecewaan masa lalu, kadang sebagian orang malah bersikap menyalahkan, mengkritik terlalu banyak, hingga iri dengan pencapaian orang lain. Padahal cara seperti ini justru akan menutup diri untuk menerima kerapuhan, yang menurut Dr. Brown artinya, kita menutup diri untuk merasakan cinta, kebahagiaan, kreativitas dan perasaan diterima.



Proses penerimaan diri adalah tahapan awal untuk berdamai dengan kerapuhan. Sebagaimana Umar bin Khattab menerima dirinya seutuhnya, sehingga dia mempunyai keberanian untuk merangkul ketidaksempuraan diri. Memberikan kesempatan diri untuk jujur dan terbuka, akan semua perasaan yang muncul adalah usaha untuk memunculkan keberanian dari dalam.

Umar telah merangkul kerapuhannya, sehingga dia mampu menciptakan sebuah “rumah yg nyaman dan aman” untuk diri sendiri. Kerapuhannya justru mendatangkan kenyamanan untuk menjadi diri sendiri dan melahirkan penerimaan diri yang seutuhnya. Maka lahirlah umar sebagai khalifah yang terkenal dengan ketegasan disamping kelembutan hatinya.
Umar bin khatab telah berdamai dengan masa lalu yang sangat kelam, bukan dengan melupakan apa yang sudah terjadi, melainkan mengingatnya dan menerima itu menjadi bagian dari diri sendiri.
Rasulullah SAW berkata :

“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya.”
(Dalam HR Ibnu Majah no. 4250, yg dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Dalam hadist yang lain, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.

Maka untuk kita semua yang telah tercerahkan jiwanya, terimalah kerapuhan diri. Janganlah bersedih dan terus terpuruk atas banyaknya dosa-dosa kita di masa lalu. Kita memang tidak bisa lagi mengubah masa lalu yang kelam, tapi kita masih bisa mengupayakan dan merubah masa depan menjadi lebih baik dan penuh rahmat dari Sang Maha penyayang.








Komentar

  1. Waw keren tulisanmu mak. Baru tahu klo ane punya teman penulis.

    BalasHapus
  2. Pas proses pertama adalah penerimaan diri. Kadang buat nerima diri itu masih sulit mb huhuhu.
    .
    Bagi tips mb
    .
    Terimakasih atas tulisan motivasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya... Anda benar.
      Proses penerimaan diri adh fase yg plg sulit dlm setiap ujian hidup kita. Betapa tidak, kt dipaksa berdamai dg sesuatu yg tdk pernah kita inginkan, tidak suka bahkan membayangkannya pun tidak. Inilah yg sy namakan sbg berfikir positif level 1, yaitu "penerimaan"
      Sekarang agar rasa penerimaan itu lebih mudah kt lakukan, sy ajak anda membayangkan hal berikut, saat ini kt semua mengalami wabah pandemi. Ada banyak hal yg kdg terpaksa kt terima, misalnya kt mendapatkan informasi perlu perbanyak kosumsi Vit C, ternyata kt ga suka buah. Mau minum suplemen, ga bisa juga krn ga bisa menelan tablet.
      Tapi pd akhirnya kt mau berdamai dg mencoba mau makan buah. Walau diawal sangat tdk nyaman. Tapi motivasi apa yg membuat kt mau mengambil pilihan yg tdk kt suka tersebut?

      Kemanfaatan, keuntungan, dan sejenisnya. Kita tahu buah baik bg tubuh kt, tp kt tak mau memakannya krn alasan tak suka.

      Ok...sekarang kembalikan pd masalah hidup.kt.

      berikan makna positif sebanyak2 pd ketidaknyamanan dan kepahitan hidup anda. Maka Insyaallah anda akan mampu menerimanya sbg bagian terbaik yg Allah SWT berikan kepada hidup anda.

      Utk memudahkan prosesnya, anda dapat mendengar audio Motivasi saya ttg "Membingkai ulang kesalahan pasangan" yg ditayangkan di Radio SmartFM Banjarmasin dan semoga dishare pula dlm blog ini...



      Salam Hangat
      Rimalia Karim

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah mengunjungi Blog saya dan mohon tinggalkan komentar ya.

Postingan populer dari blog ini

Jangan Menikah karena Cinta

#Inspirasi dari Kak Rimalia (part 2)
Hai..hai...ini dia inspirasi kedua dari kakak saya, kak Rimalia. Kali ini akan membahas tentang landasan pernikahan ya. Yuk langsung aja disantap...

Tahukah Anda, mayoritas pasangan yang menikah akan mengatakan mereka menikah karena saling mencintai. Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat pada tahun 2010 menemukan bahwa 93% responden yang sudah menikah mengatakan cinta adalah fondasi utama dari pernikahan. Hasil yang hampir sama juga ditunjukkan oleh responden belum menikah yaitu 84%.Hasil ini mendukung survei yang dilakukan pada tahun 1986 yang menemukan mayoritas pria dan wanita di Amerika Serikat tidak akan menikah jika tidak mencintai pasangannya,
Data-data ini menunjukkan bahwa manusia memandang cinta romantis sebagai alasan utama untuk menikah. Tetapi dalam kenyataannya angka perceraian tak pernah menurun. Sehingga timbul pertanyaan apakah menikah karena cinta adalah keputusan yang tepat?
Aaron Beckyang dikenal sebagai…

Banyak Jalan Berbagi Kebaikan, Banyak Jalan Mendapatkan Kebaikan, Inilah Kebaikan Berbagi Bagi Kita

Kita diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Dan untuk itu, kita diberikan tuntutan yang sangat jelas melalui kalam-Nya yang termaktub di Al-Quran dan hadist yang diwasiatkan Rasulullah kepada kita. Dan dari perintah mulia tersebut, perintah untuk berbagi adalah salah satu perintah yang diberikan kepada kita. Perintah ini diantaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 114, surat Ali Imran ayat 92, surat Al Baqarah ayat 261 dan surat At Thalaq ayat 7.
Berbagi sendiri merupakan salah satu cara paling efektif untuk memperoleh kebahagiaan. Tak tanggung-tanggung, kebahagiaan dunia dan akhirat bisa kita dapatkan sekaligus. Selain itu kita bisa terbebas dari sikap khawatir, memperoleh ketenangan batin, menyucikan hati, terhindar dari sikap kikir yang merugikan dan masih banyak lagi.

Manfaat Berbagi :
Manfaat berbagi ini ternyata telah banyak diteliti oleh para ahli. Dimana dari hasil penelitian - penelitian ini menunjukkan hasil yang hampir sama. Dimana ketika seseorang…

Penjahit, Bukan Sekedar Profesi Biasa, Inspirasi Pekerjaan di saat Pandemi Corona

#Inspirasi Jadi Duit
Haloha, dalam bahasan kali ini, kita akan membahas tentang profesi dan kemampuan yang sangat menarik jika kita miliki. Apa itu? Yup, penjahit.


Ya, tentunya menjahit sendiri merupakan bagian dari dunia fashion desain. Walaupun seorang desainer pakaian memiliki sejumlah perbedaan mendasar dengan seorang penjahit tetapi kedua profesi ini masih berada di lingkup yang sama. Tentunya saya tak akan membahas masalah ini, tetapi saya lebih menyoroti kepada tingkat keberlangsungan profesi penjahit di tengah berbagai persoalan kehidupan termasuk pada situasi saat ini.
Yup, kita memang masih terus berjuang untuk menghadapi penyebaran virus corona yang masuk ke dalam kelompok virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19. Penyebarannya yang sangat cepat, masif dengan cepat menjangkau hingga ke 215 negara di dunia. Akibat virus berbentuk mahkota ini pula, sejumlah sektor menjadi lumpuh. Banyak perusahaan terpaksa memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya. Ada pula yang me…