TENTANG SEORANG PEREMPUAN BERNAMA NURANI



Hidup itu tentang kesabaran dan keyakinan. Selama kita berada di jalan yang benar, tetaplah sabar dan yakin. 


Berpuluh tahun yang lalu, seorang perempuan dilahirkan ke dunia ini. Hanya beberapa tahun hidup dengan kedua orangtuanya, Allah pun memanggil kedua orangtuanya kembali kepadaNya. Hiduplah anak ini dengan diasuh oleh saudara ibunya. Dia tak pernah mengecap bangku pendidikan sehingga tak satupun huruf latin yang dikenalnya. Kehidupan masa kecilnya boleh dibilang berbeda dengan anak kebanyakan. Tinggal dengan orang yang bukan orangtuanya telah menjadikan anak ini menjadi pribadi yang mandiri dan kuat.

Ketika berusia enam belas tahun, dia menikah dengan guru yang mengajarnya mengaji. Guru ini adalah seorang tokoh yang sangat disegani di daerah tempat tinggal mereka. Mereka hidup sederhana dan sehari-hari mereka mendapatkan penghasilan dari berjualan. Enam tahun kemudian, ketika anak keempat mereka berusia delapan bulan, sang suami dipanggil Sang Khalik. Sang suami meninggalkan sebuah surat wasiat dan pesan agar sang istri mengurus anak-anak mereka dengan baik. Tanpa pernah mengerti isi surat wasiat yang ditulis dalam huruf Melayu Gundul itu, perempun yang kupanggil nenek ini membesarkan anak-anaknya dengan kemampuannya sendiri.

Nenek tidak pernah mau menikah lagi. Baginya kakekku adalah yang terbaik dan beliau khawatir jika menikah dengan orang lain, maka kelak beliau tidak bisa berkumpul lagi dengan suami yang begitu dicintai dan dihormatinya itu di surgaNya. Kesetiaan yang terus dipegangnya hingga ajal menjemput. Padahal tidak sedikit pria yang mau menikah lagi dengannya. Nenekku masih sangat muda, baru berusia dua puluh dua tahun dan dia berwajah cantik. Kecantikan yang juga terpancar dari dalam hatinya.

Nenekku bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya. Berbagai pekerjaan dilakukannya. Mulai dari menjadi tukang cuci hingga berjualan. Ketika anak-anaknya telah cukup besar, maka nenek membuat kue yang akan dijual secara berkeliling oleh anak bungsunya. Jika kue tersebut tidak laku, maka mereka tidak bisa makan nasi. Sehingga nenekku harus bersikap tegas agar anak-anaknya betul-betul mau bekerja keras. Beliau juga tidak pernah mengemis walaupun kemiskinan melilit kehidupannya. Memiliki banyak kerabat yang memiliki kekayaan dan jabatan tidak lantas membuat beliau dengan mudah meminta bantuan mereka. Apakah beliau gengsi? Tidak, hanya saja beliau ingin agar anaknya memiliki harga diri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri walaupun mereka miskin. 

Bertahun-tahun dilalui hingga anak bungsunya berusia lima belas tahun. Saat itulah dia mengatakan kepada anak-anaknya bahwa ayah mereka meninggalkan sebuah surat wasiat. Dan begitu mereka mengetahui isi surat wasiat tersebut, betapa terkejutnya mereka. Ternyata ayah mereka meninggalkan harta yang sangat banyak. Dua ratus hektar lebih tanah di berbagai area perkotaan hingga beberapa buah ruko. Sayangnya mereka tidak bisa berbuat banyak karena anak kedua Sang Ayah dari istri terdahulunya telah menjual hampir sebagian besar harta tersebut. Dia tidak pernah menunaikan pesan yang dititipkan Sang Ayah kepadanya, agar berbuat adil terhadap adik-adiknya dan malah memakan hak mereka, hak anak yatim. Nenekku tidak pernah mengetahui kenyataan bahwa dia adalah istri seorang konglomerat, pun setelah dia mengetahuinya, tidak banyak kenyataan yang berubah. Dia tetap hidup sederhana.

Kemiskinan dan kemandirian sikap yang dimilikinya membuat nenekku menjadi pribadi yang kreatif. Dia biasa memanfatkan lahan untuk bercocok tanam, memasak dengan berbagai tumbuhan yang tumbuh di sekitar rumah, bertukang seperti membuat toilet sendiri hingga membuat kue tradisional untuk kemudian dijual. Ketika aku masih kecil, hampir setiap hari aku bermain ke rumahnya. Disitu aku akan melihat nenekku mengolah berbagai bahan makanan yang sederhana menjadi penganan yang enak, penganan yang tak bisa kutemui lagi kini, misalnya kue sagon, enting-enting sederhana dan wajik ala nenekku. Tidak hanya itu, nenekku juga pandai membuat bunga kertas, kincir angin mainan, tikar hingga kerajinan dari kelapa. Aku sering dibuat terkagum-kagum oleh berbagai macam keahlian yang dimilikinya.

Di kemudian hari, aku menyadari betapa banyak pelajaran yang bisa kuambil dari nenekku. Aku yang mengaku seorang sarjana dengan begitu banyak kemudahan hidup malah tidak bisa sekreatif dan sekuat nenekku yang bahkan menulis namanya sendiri pun, dia tak bisa. Namun aku bersyukur memiliki nenek dengan sikap kemandirian yang kuat. Sampai hari ini, kami bisa hidup dengan prinsip hidup yang baik adalah berkat beliau yang pantang menyerah dengan berbagai kesulitan. 

Bagaimanapun sulitnya kondisi yang dihadapinya, dia tetap mengedepankan hati nuraninya yang bersih untuk mengambil sikap. Walaupun haknya dan hak anak-anaknya diambil orang dan mereka terzalimi, dia tetap tidak mau mempermasalahkan hal tersebut. Dia tak pernah mencak-mencak atau berteriak menuntut haknya. Bukan karena takut, tetapi karena beliau yakin ada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar harta, yaitu integritas, kemampuan untuk bisa hidup tanpa bergantung kepada harta warisan dan kesabaran. Beliau meyakini bahwa Allah akan membalas semua perlakuan buruk yang dilakukan orang lain terhadap dirinya dan anak-anaknya sehingga ketika meninggal pun, beliau tetap tenang dan bersabar terhadap segala ketentuan Allah yang berlaku terhadapnya .

Hingga akhir hidupnya pada awal tahun 2007, nenekku tetap berusaha hidup dengan keteguhan sikap dan kebiasaan baik yang dimilikinya. Dia hanya sakit selama kurang lebih satu minggu sebelum ajal menjemputnya. Dan ketika beliau meninggal, banyak orang yang datang untuk memberi penghormatan terakhir. Penghormatan untuk seorang perempuan sederhana yang kuat dan selalu tersenyum dalam menghadapi hidup. Itulah warisan terbesar yang diberikan olehnya. Jauh melebihi nilai materi sebesar apapun, berupa banyaknya pelajaran berharga yang terus kupegang hingga hari ini. Pelajaran dari seorang perempuan yang bernama Nurani.
For : My Grandma, semoga nenek selalu bahagia di sana.