MULAI DARI RUMAH, WUJUDKAN GENERASI UNGGUL, BEBAS STUNTING UNTUK INDONESIA EMAS DI 100 TAHUN INDONESIA MERDEKA



Sekitar satu tahun yang lalu, seorang kenalan kakak kedua saya yang memiliki sebuah sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) meminta saya memberikan materi sederhana tentang Stunting kepada wali murid di sekolahnya. Agenda ini berbarengan dengan acara Kunjungan Edukasi (atau yang disebut Outing Class di beberapa sekolah), ke Rumah Produksi Bakery milik kakak saya. Pemilik sekolah PAUD ini ingin agar tidak hanya anak – anak didiknya yang mendapat manfaat dari kegiatan edukasi ini, tetapi juga bagi orangtua mereka, terutama berkaitan dengan pemberian makanan sehat untuk tumbuh kembang optimal buah hati mereka.
Sebenarnya saya bukanlah ahli gizi atau  penyuluh kesehatan sehingga diminta memberi materi ini. Tetapi bisa jadi karena saya dan kakak ketiga (yang juga seorang penulis) saya pernah menulis sebuah buku yang sedikit banyak membahas tentang memilih makanan sehat dan baik agar keluarga bisa melahirkan anak – anak yang sehat. Jadi acara ini semacam sharing kepada sesama ibu tentang pentingnya memperhatikan asupan gizi bagi anak – anak terutama di 1000 hari pertama usia mereka.

Masalah stunting memang menjadi perhatian utama untuk diperhatikan. Mengingat hal ini berkaitan erat dengan kelangsungan bangsa ini. Karena salah satu aspek penting dari kelangsungan sebuah bangsa adalah memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul (sehat dan cerdas). Dan untuk memperoleh itu semua, asupan gizi termasuk faktor penentu untuk menghasilkan generasi unggul yang kelak akan menjadi pilar penguat bangsa kita tercinta ini.  Faktor lainnya adalah pola asuh yang tepat dan lingkungan yang baik termasuk di dalamnya pemilihan sekolah yang sesuai dengan karakter dan cara belajar anak.


Mengenal STUNTING

Gambar : Dok. pribadi

Penyebab Stunting


Penyebab stunting sangat beragam. Tetapi faktor penentu memang ada di 1000 hari pertama kehidupan seorang anak. 1000 hari pertama itu meliputi 270 hari kehamilan dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Jadi menyiapkan asupan gizi untuk mencegah stunting mulai dilakukan dari awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode inilah yang disebut periode emas dalam kehidupan seorang anak.

Ilustrasi ibu hamil, bayi hingga batita berusia dua tahun

Selain beberapa penyebab di atas, stunting juga bisa disebabkan akibat hal – hal seperti :

Ø  Rendahnya pengetahuan dalam pola asuh ibu terutama mengenal kesehatan dan gizi sejak sebelum kehamilan, saat hamil, melahirkan dan pemberian zat gizi setelah melahirkan
Ø  Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC (Ante Natal Care) atau pelayanan kesehatan ibu selama masa kehamilan, Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas
Ø    Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi yang buruk
Ø  Kurangnya akses ke makanan bergizi pada ibu hamil yang disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan makanan, tingkat daya beli yang rendah, konsumsi makanan sehat yang rendah termasuk kurangnya asupan protein hewani


               Sementara anak – anak yang mengalami stunting bisa kita lihat dari ciri – ciri seperti :





Berdasarkan data dari riset kesehatan dasar (Riskesdas)tahun 2019, angka stunting di Indonesia masih mencapai 30,8 % yang artinya satu dari tiga balita mengalami stunting. Sementara target dari organisasi kesehatan dunia WHO, angka stunting ini tidak boleh melebihi 20%. Jika masalah ini tidak ditangani dengan serius, dikhawatirkan Indonesia bisa mengalami “Lost Generation” atau hilangnya generasi penerus bangsa !


               Indonesia bahkan memiliki angka stunting tertinggi di Asia Tenggara dan masuk top five di dunia. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang komprehensif untuk mengurangi angka stunting. Stunting dalam jangka panjang memiliki dampak yang jauh lebih berbahaya daripada sekedar gagal tumbuh atau memiliki tubuh yang lebih kecil daripada seharusnya. Dampak itu meliputi :



 Lalu bagaimana mengetahui apakah anak – anak kita tumbuh sesuai dengan standarnya? Untuk itu, yuk lihat tabel di bawah ini :


Melihat dampak jangka pendek maupun panjang yang diakibatkan oleh stunting, maka mencegah terjadinya merupakan hal yang sangat penting. Untuk memulainya, tentu dimulai dari rumah tangga sebagai unit terkecil dalam sistem kemasyarakatan. Seyogyanya setiap orangtua khususnya ibu hendaknya melakukan beberapa hal penting seperti :
                      Ø Kreatif dalam menyajikan makanan sehat untuk keluarga
Makanan sehat tak melulu identik dengan yang mahal. Selama makanan tersebut mengikuti pedoman untuk memenuhi kebutuhan gizi maka kita tidak perlu khawatir tentang pemenuhan gizi bagi diri sendiri maupun keluarga.
Jika dulu kita mengenal konsep “Empat Sehat Lima Sempurna” maka kini slogan ini kini berubah menjadi “Isi Piringku”. Panduan ini memberikan panduan porsi bagi pemenuhan gizi per sekali makan yang terdiri dari :

½ piring untuk sayur dan buah
¼ piring untuk protein yang berasal dari protein hewani seperti ikan, daging, bijian – bijian, ayam hingga jamur
¼ piring untuk karbohidrat utamanya yang berasal dari biji – bijian utuh dari beras, gandum atau pasta


Ø Selain itu kita diminta pula untuk mengurangi konsumsi gula dan garam. Nah, kita bisa berpatokan dengan memperhatikan batasan GGL (Gula, Garam, Lemak) harian berikut ini :
GULA 50 gram (4 sendok makan)
GARAM 5 gram (1 sendok teh)
LEMAK 67 gram (5 sendok makan minyak)
Rumusannya adalah : G4 G1 L5

Ø Memperkaya wawasan tentang jenis bahan makanan yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak
Sering memperhatikan kandungan makanan yang ada di kemasan makanan siap saji seperti snack, es krim dan coklat ? disana kita bisa menjumpai begitu banyak istilah – istilah kimia mulai dari perasa, pewarna, pemanis hingga penggumpal, pelarut dan berbagai istilah kimia yang bisa jadi tidak kita ketahui fungsinya.
Sesekali mengkonsumsi makanan tersebut dalam porsi kecil tentu boleh – boleh saja. Tetapi manakala makanan dengan kandungan zat gizi yang belum tentu memenuhi kebutuhan tubuh kita tersebut terus – terusan dikonsumsi apalagi jika sampai menggantikan makanan utama, tentunya bukanlah pilihan yang bijak, apalagi bagi anak – anak.
Walaupun makanan – makanan tersebut terasa sangat lezat, namun makanan tersebut memiliki efek yang tak selezat rasanya.  Selain itu makanan yang diolah dengan cara yang tidak sehat pun berpotensi buruk bagi tubuh. Makanan yang menggunakan Bahan Tambahan Pangan (BTP) di luar batas yang dianjurkan juga harus diwaspadai. Untuk menyiasati hal ini, kita bisa menyiapkan cemilan sehat bagi keluarga dan mengajarkan anak – anak untuk memilih jajanan yang sehat bagi mereka.

Ø Mencari informasi dan memperluas wawasan tentang  bagaimana mencegah terjadinya stunting pada anak – anak

Selain beberapa hal di atas, ada satu lagi fakta yang harus kita cermati, yakni penggunaan  Susu Kental Manis (SKM) yang kerap disalahartikan. SKM dibuat dari susu sapi yang dibuang airnya dan ditambahkan gula sehingga rasanya sangat manis. 

Sumber : iStock


Beberapa fakta berikut ini menegaskan tentang SKM :

SKM Mengandung gula sebesar 40 - 50%
  Kadar gula yang tinggi pada SKM meningkatkan risiko diabetes dan obesitas pada anak
 Asupan gula yang berlebihan akan merusak gigi anak
 Kandungan gizi SKM lebih rendah dibandingkan jenis susu lainnya
Kalsium dan protein SKM lebih rendah daripada susu bubuk atau susu segar

Sayangnya masih banyak salah kaprah tentang penggunaan SKM yang seyogyanya digunakan sebagai topping makanan ini. Dimana SKM disajikan dengan mencampurnya dengan air dan dijadikan minuman susu yang dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh anak. Padahal,

(Kemenkes) dan BPOM mengakui bahwa susu kental manis (SKM) bukan merupakan asupan gizi pengganti air susu ibu (ASI)


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Abhi Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bersama dengan PP Aisyiyah yang dilakukan di tiga wilayah dengan angka stunting tertinggi, yaitu Aceh (Banda Aceh, Pidi, Aceh Tengah), Kalimantan Tengah (Palangkaraya, Kota Waringin Timur, Barito Timur), dan Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondaw Utara, Manado, menemukan sebuah fakta yang mengejutkan. Penelitian yang memfokuskan kepada kebiasaan konsumsi SKM  dan pengaruhnya terhadap gizi buruk ini menemukan bahwa ditemukan kasus gizi buruk dan kurang gizi terhadap balita dan bayi yang mengosumsi SKM setiap hari.
               Dari 1.835 anak yang terdata, sebanyak 12% anak mengalami gizi buruk, 23,7% mengalami gizi kurang. Anak yang berstatus gizi buruk yang ditemukan pada anak usia lima tahun adalah sebanyak 28,8% dan gizi kurang pada anak usia 3 tahun sebanyak 32,7%. Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah mengatakan bahwa angka ini cukup tinggi di tengah gencarnya upaya untuk melakukan edukasi kesehatan terhadap anak dan keluarga yang dilakukan oleh pemerintah, akademisi dan kalangan swasta. Temuan serupa juga disampaikan oleh Koalisi Peduli Kesehatan Masyarakat (Kopmas).
               Persepsi salah tentang SKM yang terbentuk di tengah masyarakat terjadi akibat penyampaian informasi tentang SKM yang kurang utamanya oleh produsen SKM. SKM memang mengandung susu, tetapi dalam kadar yang sangat sedikit, tidak cocok dikonsumsi anak – anak di bawah usia tiga tahun dan tidak mampu menggantikan ASI. SKM hanya bisa dijadikan topping makanan atau zat penambah kelezatan sebuah hidangan. 


Ilustrasi penggunaan SKM pada makanan


Menyiapkan Generasi Unggul dengan asupan tepat di 1000 Hari Pertama Kehidupan

               Berbagai upaya terus dilakukan untuk mewujudkan generasi unggul di Indonesia dan mewujudkan Indonesia emas di satu abad kemerdekaan negara RI. Upaya berkelanjutan ini difokuskan pada 1000 hari pertama bagi setiap kelahiran setiap anak di negeri ini. Upaya ini meliputi peningkatan kualitas kesehatan ibu hamil, bersalin, saat nifas, bayi baru lahir, bayi sampai usia dini untuk menurunkan angka kesakitan, kematian ibu dan balita serta penurunan stunting.
               Komitmen YAICI yang bekerjasama dengan PP Aisyiyah juga hadir di berbagai kota di Indonesia untuk mensosialisasikan tentang pentingnya pemenuhan gizi untuk mencegah stunting termasuk meluruskan persepsi yang salah tentang penggunaan SKM. Beberapa waktu yang lalu, bertempat di Aula Universitas Muhammadiyah Jambi, YAICI bekerjasama dengan PP Aisyiyah Provinsi Jambi mengadakan talkshow yang sangat bermanfaat dan menarik dengan tema “Edukasi Gizi Anak Menuju Indonesia Unggul Dalam Mewujudkan Generasi Emas 2045”.
               Acara yang dihadiri pula oleh perwakilan Aisyiyah dari berbagai kabupaten di provinsi Jambi ini menguatkan komitmen YAICI dan PP Aisyiyah untuk terus berkontribusi untuk kemajuan bangsa dengan meningkatkan dan mensosialisasikan pemenuhan gizi yang dimulai dari rumah. Sesuai dengan semangat dakwah Aisyiyah yang berlandaskan semangat Al-Maun dengan  nilai-nilai Islam berkemajuan untuk memperkokokh gerakan dalam berbagai bidang berbasis keluarga dan masyarakat melalaui Gerakan Keluarga Sakinah dan Qaryah Thayyibah.

Acara Talkshow YAICI dan PP Aisyiyah di kota Jambi beberapa waktu yang lalu

Kemeriahan Talkshow YAICI dan PP Aisyiyah di kota Jambi

Untuk menyiapkan generasi unggul ini, kita bisa melakukan hal – hal sederhana namun bermakna besar berikut ini :             

Pada Ibu Hamil

Bagi calon ibu yang mendapati dirinya mengalami datang bulan, segera ya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Hal ini untuk memastikan terjadinya kehamilan atau tidak. Selanjutnya jika terjadi kehamilan, maka lakukan pemeriksaan kesehatan minimal 4 kali selama kehamilan. Pastikan pula ibu hamil menerima imunisasi TT (jika diperlukan), tablet tambah darah, pengobatan jika terjadi masalah dan penjelasan dari tenaga kesehatan. Imbangi dengan asupan makanan yang sehat, istirahat yang cukup, siapkan fisik dan mental untuk menjalani kehamilan dan melahirkan, melakukan aktivitas fisik yang sesuai dan hindari stress juga makanan yang berpotensi membahayakan janin.
Selanjutnya usahakan melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan sehingga ibu ditangani tenaga kesehatan yang kompeten. Ibu dan bayi juga akan segera memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan seperti IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan imunisasi pada bayi dan penanganan lebih lanjut saat terjadi masalah pasca melahirkan.

Setelah Melahirkan

              Lanjutkan dengan pemberian ASI ekslusif hingga bayi berusia enam bulan. Ditambahkan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang sesuai tahapan usia dan memperhatikan gizi yang cukup dan teruskan pemberian ASI hingga usia bayi dua tahun. Berikan pula bayi imunisasi yang sesuai tahapan usianya. Dan imunisasi ini bisa didapatkan secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan yang termasuk dalam program pemerintah seperti Posyandu, Puskesmas dan RS Pemerintah di seluruh Indonesia.






Setelah Anak Melewati Masa 1000 Hari Pertama         

               Teruskan pemberian makanan bergizi sesuai aturan dengan variasi yang seimbang pula. Kita pun bisa menanam sendiri beberapa jenis pangan seperti sayur, tomat, cabe, tanaman obat di sekitar rumah kita sehingga bisa menekan pengeluaran untuk pembelian bahan makanan. Ada begitu banyak cara untuk tetap memberikan makanan bergizi bagi keluarga dan anak – anak kita. Kuncinya adalah mau peduli dan terus belajar serta menambah wawasan. Ada begitu banyak layanan kesehatan yang disediakan baik oleh pemerintah dan pihak swasta yang siap memberikan informasi seputar dunia kesehatan. Kehadiran internet pun memberi kemudahan untuk mencari tahu hal – hal yang menyangkut pemenuhan gizi keluarga.
               Cara lain adalah bergabung dengan komunitas yang peduli dengan tumbuh kembang anak. Berbagi cerita dan pengalaman akan membantu kita untuk tetap konsisten dalam menjalankan peran sebagai orangtua yang peduli dengan tumbuh kembang anak – anak. Jangan pula gampang percaya dengan isu atau informasi tentang suatu berita sebelum mencari tahu kepada pihak yang berkompeten, misalnya tentang penggunaan SKM seperti bahasan kita di atas.

Beberapa cara ini juga bisa kita perhatikan untuk tetap memastikan kecukupan gizi bagi anak – anak kita :       
Ø Penambahan suplemen seperti vitamin saat anak mengalami defisiensi vitamin misalnya vitamin A yang jika jumlahnya kurang di dalam tubuh balita bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bahkan bisa menyebabkan kebutaan pada anak. Terutama dengan penggunaan gawai yang semakin meningkat bahkan telah diakses oleh anak – anak di usia yang sangat muda.
Ø Mengolah makanan sehat dengan cara sesederhana mungkin. Makanan yang terlalu lama melalui proses pengolahan tentu akan mengalami pengurangan zat gizi yang signifikan.
Ø Hindari memanaskan makanan terus – menerus.
Ø Pelajari cara penyajian dan pengolahan makanan sehat namun tetap menarik dan lezat agar anak – anak kita makin menyukai makanan sehat.
      
  
Saya yakin seluruh orangtua di muka bumi ini menginginkan anak – anak yang sehat, aktif, ceria, cerdas dan kelak akan tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga dan sesama. Semua itu dimulai dari rumah dan menjadi tanggung jawab utama orangtua utamanya ibu sebagai garda terdepan dalam pengasuhan anak.
Selain memperhatikan asupan gizinya, pastikan pula anak – anak kita tumbuh dengan nilai agama yang baik. Sediakan pula lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang mental dan psikisnya hingga ke pemilihan lingkungan sekolah yang bersinergi dengan pengasuhan orangtua di rumah sehingga anak – anak terhindar dari stress yang bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh anak.
Dengan anak – anak yang sehat, biaya pemeliharaan kesehatan menjadi lebih kecil, kita bisa lebih produktif dan anak – anak pun bisa menjalani kehidupannya termasuk menjalani proses pembelajarannya dengan baik sehingga kelak akan menjadi generasi unggul yang membanggakan keluarga dan mampu berkontribusi bagi negara dengan seoptimal mungkin.
Dengan asupan gizi yang tepat, dimulai dari rumah, mari wujudkan generasi unggul, bebas stunting demi Indonesia emas di 100 tahun Indonesia merdeka.


Sumber :