MESIN JAHIT IBU


Tik…..rrrrrr……senyap, tik tik ik…rrrr, suara itu adalah denyut kehidupan bagiku. Saat kaki – kaki lincah Ibu menekan pedal mesin jahit tuanya, seiring dengan tangan gesitnya yang menggeser bahan yang sedang dijahit selalu membuaiku, menandakan bahwa hidup harus berlanjut apapun yang terjadi.
Dulu sekali ketika adik bungsuku belum lagi bisa berjalan, ayah kembali menghadapNya. Sejak itu, Ibu seorang diri, bekerja keras menghidupi kami dengan mesin jahit tuanya.

Empat bulan yang lalu
Dug, krak….bunyi itu memecah kesenyapan di rumah ini. Aku terpaku terdiam, Ibu bersimpuh dengan tetes air mata di samping mesin jahit yang tergeletak diam, pasrah.
“Bu, apa yang terjadi?” aku ikut berlutut di samping Ibu.
“Dia datang, menagih sewa rumah ini, Ibu belum bisa membayar penuh, dia marah dan menghancurkan mesin jahit ini.”
Kami tergugu bersama
Sejak itu, setiap hari ibu berusaha membangunkan mesin jahit tua itu, tapi hanya kesia-siaan yang menghampiri, dia tetap tak bergeming.

Hari ini
Imanku kepadaNya melambung. Ketukan doa ibu menembus langit. Sebuah mesin jahit, baru, sebuah dinamo, dalam kardus berwarna merah duduk bersanding di ruang tamu yang merangkap tempat usaha jahit ibu.
“Bantuan untuk UKM, seperti kita.” Ibu tersenyum.
Tik…rrrrr…tik…senyap….rrrrr….tik…tik…tik…..rrrrr. Alunan suara merdu itu kembali terdengar. Kutatap jam mungil di kamarku. Aku kembali bisa tidur nyenyak.