BIAR LAMBAT YANG PENTING BERES


           Sudah lebih dari delapan tahun Yuk Jubed, demikian kami memanggil namanya bekerja kepada keluarga kami sebagai asisten rumah tangga. Kami tak pernah menyebutnya pembantu untuk menghindari konotasi negatif yang seringkali muncul di tengah masyarakat. Awalnya Yuk Jubed bekerja di sebuah usaha katering yang menyediakan makanan untuk sebuah rumah sakit. Selama lima tahun Yuk Jubed bekerja di katering hingga akhirnya rumah sakit yang berskala lokal tersebut dibeli oleh sebuah rumah sakit berskala nasional yang tidak menggunakan jasa kateringan tersebut. Jadilah Yuk Jubed dan teman-temannya tidak bisa melanjutkan pekerjaannya di tempat tersebut.
Sumber foto : https://sgcka.co.id/

            Tiga bulan tanpa pekerjaan, Yuk Jubed yang tinggal di kontrakan milik mertuaku pun meminta mertuaku untuk mencarikannya pekerjaan. Ibuku yang pada saat itu memang sedang mencari seorang asisten rumah tangga pun ditawari oleh mertuaku untuk memperkerjakan Yuk Jubed. Sebelumnya Yuk Jubed belum pernah bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga. Dia dulunya tinggal di batam dan bekerja di sebuah perusahaan penghasil spareparts televisi. Setelah menikah dengan seorang pria di Batam, Yuk Jubed pun hamil. Sayang, bayinya meninggal dunia. Tak lama setelah kematian anaknya, suami Yuk Jubed yang kerap berlaku kasar pada dirinya bahkan hingga membahayakan keselamatannya membuat Yuk Jubed mengambil langkah seribu untuk melarikan diri setelah suatu malam diancam akan diakhiri hidupnya. Yuk Jubed pun pulang ke tempat asalnya yaitu kota Jambi.

            Pertama kali melihatnya, penampilan Yuk Jubed kurang meyakinkan bahwa dia mampu bekerja berat. Tubuhnya yang memiliki tinggi sekitar 165 cm dengan berat badan tak sampai 43 kg membuatnya sangat kurus dan terkesan kurang gizi. Namun karena merasa kasihan, kami pun memperkerjakannya. Jadilah mulai hari itu hingga hari ini Yuk Jubed bekerja di rumah kami.


            Terbiasa bekerja teratur di perusahaan dengan sistem kerja sesuai aturan membuat cara kerja Yuk Jubed pun sangat rapi dan teratur. Tugasnya yang meliputi menyiram tanaman, menyapu halaman, membersihkan rumah kecuali kamar tidur yang merupakan tanggung jawab masing-masing pemilik kamar, mengepel lantai, mencuci piring, menjemur pakaian dan mengangkatnya hingga menyetrika, dikerjakan dengan urutan yang sama setiap hari. Yuk Jubed tak akan mengubah urutan kerjanya. Dia juga memiliki jam kerja layaknya jam kerja kantoran yang dibuatnya sendiri. Setiap hari Senin sampai Sabtu, Yuk Jubed akan datang pada pukul 8 pagi dan pulang pada pukul 4 sore. Bahkan walaupun turun hujan lebat, Yuk Jubed akan selalu konsisten datang pada waktu yang telah ditetapkannya tersebut.

            Alhasil jika kami ingin memintanya mengerjakan sesuatu di luar rutinitasnya, maka kami akan memberitahukannya sebelum dia memulai aktivitasnya. Contohnya  aku yang berbelanja keperluan dapur pada hari Sabtu, maka aku akan memintanya mencuci ikan dan ayam serta membuat sambal pada hari tersebut. Sedang ibuku sering memintanya untuk melakukan hal lain semisal mengelap jendela luar rumah, menggoreng kerupuk, mencuci baling-baling kipas angin hingga mengupas buah.

 Sumber foto : Shutterstock


            Yuk Jubed tidak pernah berani lancang untuk membuat minuman semisal teh sendiri. Dia hanya berani mengambil air putih dan karenanya aku atau kakakku bergantian menyediakan air teh manis dan kue-kue sebagai selingan sebelum makan siang. Kami memang menyediakan fasilitas cemilan, makan siang dan uang pengganti angkutan di luar gaji bulanannya.

            Yuk Jubed juga tidak tidak banyak bicara. Dia tidak senang bergosip dengan tetangga-tetangga kami dan seringkali hanya bicara jika diajak bicara duluan. Syukurlah setelah beberapa lama bekerja pada kami, dia mulai dekat dengan anggota keluarga kami. Dia pun mulai sering bertanya kepadaku tentang persoalan agama karena rutinitas mingguanku salah satunya adalah mengaji. Dari situ dia mungkin berpikir bahwa aku bisa dijadikan tempat bertanya untuk soal agama. Aku pun jadi sering meminjamkannya buku agar bisa dibacanya di luar jam kerjanya.

            Selama bekerja dengan keluargaku, Yuk Jubed tidak pernah sekalipun meminjam uang kepada kami padahal kondisi keuangannya tidak bisa dibilang memadai. Dulu rumah orangtuanya dijual oleh adiknya, akibatnya Yuk Jubed harus tinggal mengontrak dengan biaya yang lumayan besar. Untunglah Yuk Jubed sangat hemat sehingga pengeluarannya masih bisa tertutupi.

            Setiap kali melihat Yuk Jubed, ingin rasanya aku menyumbang "daging" di tubuhku. Sayangnya aku tak bisa dan hanya bisa “memaksanya” untuk makan lebih banyak agar tidak sampai jatuh sakit. Syukurnya Yuk Jubed jarang sakit.         
 
Kedatangan Yuk Jubed dengan segala keteraturannya sehingga seolah dia mematuhi SOP (Standard Operation Procedure) tak kasat mata yang dibuatnya sendiri dengan gaya bekerjanya yang rapi dan lambat seperti langkahnya yang nyaris tak terdengar membuat irama tersendiri dalam keluargaku yang terbiasa bekerja dengan ritme yang cepat. Prinsip biar lambat yang penting beres senantiasa dipegang teguh olehnya. Kerapian pekerjaannya yang paling terlihat adalah pada saat dia menyusun pakaian setelah selesai disetrika dan menyusun piring di rak-rak piring. Kini Yuk Jubed telah menjadi bagian penting dalam rutinitas harian keluarga kami. Semoga Yuk Jubed bisa terus betah bekerja di keluarga kami hingga bertahun-tahun ke depan.

            Tuntutan jaman yang kian banyak ini menuntut keberadaan seorang asisten rumah tangga di sebuah keluarga. Penting kiranya untuk tidak memandang sebelah mata fungsi dan peran mereka. Kedudukan mereka yang kadang-kadang masih dianggap rendah harus kita buang jauh-jauh. Malahan lebih sulit bagi kita untuk mencari seorang asisten rumah tangga yang jujur dan kompeten daripada bagi mereka untuk mencari pekerjaan.  Menjadi PRT yang nyaris tak memiliki prestise apa-apa dibanding bekerja di sebuah usaha atau perusahaan masih menjadi pilihan akhir untuk banyak orang sehingga orang-orang yang memilih bekerja menjadi PRT menurutku adalah orang-orang yang mulia.

Beberapa hal penting tentang PRT yang dianut oleh keluargaku hingga hari ini adalah jangan pernah berlaku kasar pada mereka baik ucapan maupun perbuatan. Tetap buat peraturan dan aturan yang jelas namun selalu berlaku baik serta memperhatikan kesejahteraan mereka. PRT adalah bagian dari rumah tangga kita sehingga penting untuk memberi pendidikan kepada mereka terutama pendidikan agama. Beri contoh yang baik misalnya dengan mengajak mereka untuk sholat dan menyediakan alat dan tempat sholat. Beri bonus termasuk THR beberapa waktu sekali untuk menambah semangat kerja mereka juga banyak bersedekah kepada mereka agar rejeki kita terus bertambah.

            Semoga di kemudian hari kedudukan para PRT tak dianggap rendah lagi dan akan ada UU yang jelas dan memiliki kekuatan hukum untuk mengatur hak dan kewajiban para majikan dan PRT serta tidak ada lagi penganiayaan terhadap PRT dimanapun juga di seluruh belahan bumi ini.

*********