ANGEL versus DEVIL


Sumber : Dok. pribadi 

Tahun ini adalah tahun kedua puluh empat aku mengenakan hijab. Aku termasuk beruntung karena mengenakan hijab di usia yang relatif muda sehingga tidak terlalu lama menanggung dosa karena tidak berhijab setelah akil balig. Tahun-tahun awal  ketika aku mulai mengenakan hijab adalah tahun-tahun dimana hijab masih dianggap sesuatu yang aneh. Bahkan ada yang menganggap bahwa orang-orang yang berhijab mengikuti aliran tertentu, sok suci hingga tudingan-tudingan miring lainnya. Belum lagi sulitnya menemukan jilbab seperti saat ini. Jilbab yang tersedia kebanyakan mirip alas meja dengan warna yang tidak menarik sehingga menambah kesan semakin berbedalah orang-orang yang mengenakan hijab tersebut. Namun di balik semua itu, generasi-generasi awal berhijab mayoritas sangat menyadari esensi hijab tersebut. Mulai dari alasan berhijab, hukum berhijab hingga aturan berhijab.
           
            Hukum berhijab aku ketahui ketika aku berada di kelas lima sekolah dasar. Saudara sepupuku yang telah kuliah dan mengikuti kajian keislaman di kampusnya memberitahukannya kepada kakak-kakakku dan beberapa sepupuku yang lain. Saat itu aku hanya mencuri dengar kajian mereka sembari bermain dengan sepupuku yang lain. Hal yang sangat menusuk nuraniku adalah hukuman bagi muslimah yang tidak berhijab, bahwasanya setiap langkah seorang muslimah tanpa berhijab di depan bukan muhrimnya maka akan ada sebuah rumah baginya di neraka. Hal itulah yang kuketahui dan terus melekat di ingatanku.. Tak lama kemudian kedua kakakku pun segera berhijab sedang aku acapkali berkata pada teman-temanku akan segera berhijab begitu aku akil balig

            Saat akil balig itupun tiba. Namun sayang ketika saat itu datang, kakak-kakakku dan ibuku sedang berada di luar kota sedang aku mengikuti penataran P4 untuk masuk sekolah menengah pertama. Aku tidak mungkin memberitahukan hal tersebut pada ayahku karena tentunya aku malu. Di satu sisi aku pernah mendengar bahwa sebenarnya ayahku merasa kurang setuju karena kakak-kakakku berhijab. Ya hal itu disebabkan karena ketidaktahuannya terhadap perintah Allah untuk berhijab. Syukurlah ibuku memberikan penjelasan kepadanya bahwa hal tersebut adalah perintah Allah yang tidak boleh kita tentang walaupun ibuku belum berhijab pada saat itu.

            Ketika kakak-kakakku dan ibuku pulang dari luar kota, akupun mengutarakan keinginanku untuk berhijab dan minta dibuatkan seragam sekolah yang sesuai. Namun sayangnya ibuku menganggapku masih terlalu kecil. Selain aku adalah anak bungsu dengan jarak usia yang relatif cukup jauh dari kakak-kakakku, aku juga sedikit kelaki-lakian. Masa kecilku kerapkali kuhabiskan untuk bermain permainan ala laki-laki dan memanjat pohon. Mungkin ibuku menganggap aku hanya bermain-main karena terpengaruh kakak-kakakku untuk berhijab. Akupun mengalah saat itu. Aku tidak punya alasan kuat untuk menolak permintaan ibuku untuk tidak berhijab.

            Hari-hari kulewati. Namun keinginan berhijab itu terus bergema dalam lubuk hatiku terdalam. Masih kuingat hari-hari ketika aku melewati jalan sambil menghitung langkah. Akupun beristigfar setiap kali aku sampai di rumah. Ya Allah betapa banyaknya rumahku kelak di neraka karena aku tidak berhijab. Dan kesedihanku akan bertambah setiap melihat hijab namun aku tidak bisa mengenakannya.

            Pada ulangtahunku ketigabelas, kakakku menyuruhku belajar memakai hijab. Waktu itu ujian kenaikan kelas sudah selesai dan hanya tinggal menunggu rapor. Akupun tidak bersekolah. Dengan senang hati aku mengikuti saran kakakku. Dengan perasaan bahagia aku berkata kepada ayahku bahwa aku memakai hijab dan ayahku hanya memandang tanpa berkata-kata pada saat itu. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya pada saat itu, yang jelas dia tidak memarahi aku dan itu berarti mungkin dia menyetujuinya.

            Hari penerimaan raporpun tiba. Pagi itu aku kembali mengenakan seragam sekolahku tanpa berhijab. Tiba-tiba kakak pertamaku datang. Dia bertanya mengapa aku tidak berhijab. Akupun terdiam. Kupikir karena aku tidak memiliki seragam sekolah dan baru akan mengenakan hijab pada tahun  ajaran baru makanya aku tidak mengenakan hijab. Namun kata-kata kakakku menyadarkanku. Dia berkata bahwa kebaikan sebaiknya disegerakan. Aku hanya terdiam. Dia kembali tersenyum sambil melontarkan pertanyaan yang sangat sederhana tapi justru membuatku kembali membulatkan tekadku untuk berhijab. Dia menanyakan apakah pagi itu malaikat atau setan yang menang di pikiranku. Jika malaikat yang menang maka aku harus berhijab.

            Selama beberapa menit akupun terdiam. Lalu kutemui kakakku dan mengatakan bahwa malaikatlah yang menang. Kakakku memelukku dengan mata berkaca. Dia berkata bahwa dia tahu aku akan memilih malaikat karena secara harfiah tidaklah mungkin kita mengakui memenangkan setan dalam perdebatan antara kebenaran dan kebatilan. Diapun mengeluarkan baju seragam SMA milik kakak keduaku. Walaupun sedikit kebesaran, aku dengan senang hati mengenakannya. Dia juga yang memasangkan hijab pertamaku.

            Sesampainya aku di sekolah, banyak pandangan tertuju ke arahku. Aku hanya tersenyum. Aku telah menguatkan tekad bahwa sampai kapanpun aku akan tetap menjalankan syariat agamaku, salah satunya dengan berhijab walaupun ke depannya aku tahu banyak tantangan menunggu. Saat itu  SK yang membolehkan foto berjilbab pada ijazah belum keluar dan banyaknya larangan berjilbab di berbagai instansi.  Namun bagiku malaikat tetaplah pemenang di hatiku.

            Hingga hari ini aku tidak menemui halangan yang berarti karena hijabku. Justru banyak kemudahan dan perlindungan Allah yang kudapati. Pun tak lama setelah aku berhijab, ayahku malah menjadi pendukung kami dengan selalu mengingatkan agar kami selalu istiqomah dalam menjalani hukum Allah tersebut. Bahkan ibuku pun akhirnya juga mengenakan hijab.

            Saat ini, ketika aku melihat diriku juga sekelilingku, kurasakan banyak sekali perubahan tentang hijab. Positif dan negatif. Positif karena semakin banyak muslimah yang berhijab dan hijab bukanlah lagi barang aneh seperti dulu dan hijab sangat mudah dijumpai dimana saja dengan berbagai model. Negatif karena sebagian dari mereka mengenakan hijab tanpa aturan yang benar. Harapku suatu hari nanti para muslimah yang berhijab dengan mengabaikan aturan berhijab mau melihat kembali bagaimana esensi hijab yang sebenarnya dan mau mengamalkan perintah berhijab dengan menyeluruh bukannya setengah-setengah.    

*******